Artikel Pertanian

Tampilkan postingan dengan label penanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penanaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

CARA PENGGUNAAN ALSINTAN DALAM PENGOLAHAN TANAH


Sumber Gambar: 2. lanuihsan.blogspot.com)

PENGOLAHAN TANAH PERTAMA (PRIMARY TILLAGE EQUIPMENT).
Proses pembajakan biasa disebut juga pengolahan lahan pertama. Ide dasar pengolah tanah pertama digunakan untuk : memotong, memecah dan membalik tanah, sehingga seresah tanaman yang berupa sisa tanaman dapat terbenam. Kedalaman pemotongan dan pembalikan umumnya sekitar 15 cm, dan hasil pengolahan tanah berupa bongkahan-bongkahan tanah yang cukup besar. Beberapa macam alat pengolah tanah pertama:
Bajak singkal ( Moldboard Plow ). Bajak singkal merupakan jenis bajak tertua yang dikenal manusia untuk mengolah tanah. Bajak singkal dapat digunakan untuk berbagai macam jenis tanah dan sangat baik untuk membalik tanah. Bajak singkal dibedakan menjadi 2 golongan : a) Bajak singkal satu arah / one way moldboard plow. Bajak jenis ini melempar dan membalik tanah hanya dalam satu arah. Lemparan atau pembalikan tanahnya, biasanya dilakukan kearah kanan; b) Bajak singkal dua arah / two way moldboard plow. Bajak jenis ini arah pelemparan / pembalikan tanahnya dapat diatur dua arah yaitu kekiri ataupun kekanan. Bagian bajak singkal yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Bottom terdiri dari bagian-bagian utama yaitu: 1) Singkal ( mold board ) berguna untuk melempar tanah; 2) Pisau ( share ) berguna untuk memotong tanah; 3) Penahan samping (landside) berguna untuk menyeimbangkan serta menahan bajak.
Ketiga bagian tersebut diikat pada bagian yang disebut penyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan rangka (Frame) melalui batang penarik / balok ( beam). Selain bagian diatas bajak singkal dilengkapi dengan alat yang disebut pisau pemotong (coulter). Alat ini berfungsi untuk membelah tanah atau tumbuhan, sampah-sampah yang ada di atas tanah sebelum pisau bajak memotong tanah.dengan demikian sisa tumbuhan dapat dibalik dengan baik dan memperingan pekerjaan pisau bajak.
Ada dua bentuk pisau pemotong. 1) pisau pemotong stationer ( stationery knife); 2) pisau pemotong berputar ( rolling coulter). Bajak singkal bekerja memotong dan membalik tanah maka akan terbentuk alur yang disebut furrow. Macam alur yang dibentuk : a) Keratan tanah ( furrow slice ) membentuk alur tumpukan tanah kesamping; b) Alur balik ( back furrow). Membentuk alur tumpukan tanah di tengah; c) Alur mati (dead furrow). Membentuk alur tanpa tumpukan tanah.
Bajak piring (Disk Plow). Bajak piringan berbentuk piringan cekung yang dapat berputar untuk melempar tanah. Putaran yang terjadi dimaksudkan untuk mengurangi gesekan pada tanah sehingga daya memecah tanah lebih ringan. Bagian- bagian bajak piring : 1) Penggeruk ( scraper ) berguna untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan, dan membantu dalam pembalikan potongan tanah; 2) Bantalan / bearing; 3) Kerangka/beam; 4) Piring / disk; 5) Roda alur penstabil / furrow wheel; 6) Roda dukung / land wheel.
Bajak rotary / pisau berputar/ rotary plow. Bajak rotary adalah bajak yang terdiri dari pisau-pisau yang berputar, bajak ini terdiri dari pisau – pisau yang dapat mencangkul yang dipasang pada poros yang berputar karena digerakkan oleh motor. Bajak ini banyak ditemui pada pengolahan tanah sawah untuk pertanaman padi. Meski termasuk golongan bajak, tetapi bajak rotary berfungsi tidak untuk membalik dan melempar tanah, tetapi hanya untuk memotong tanah saja. Bajak rotary ini terdiri dari pisau-pisau putar yang terpasang pada poros. Semakin cepat putaran poros maka semakin cepat putaran pisau. Dalam penggunaannya seringkali tanah lengket dan menempel pada mata pisau. Untuk mengurangi tanah lengket yang menempel pada mata pisau saat penggunaannya bisa dilakukan dengan mengurangi jumlah pisau atau memperlambat gerakan saat menggunakannya.
Bajak chisel/ chisel plow
Alat ini berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka.digunakan untuk memecah tanah yang keras sampai kedalaman sekitar 18 inchi dan digunakan sebelum pembajakan tanah dimulai. Bajak chisel digunakan untuk menembus tanah dengan alat yang menyerupai pahat / ujung sekop yang disebut mata bajak chisel / chisel point. Fungsi bajak chisel adalah : a) Untuk memecah tanah yang keras dan kering, biasa dilakukan sebelum pembajakan untuk tanah tertentu; b) Untuk pengerjaan praktis tanah bagian bawah; c) Untuk mengolah tanah yang berjerami dan memotong sisa –sisa perakaran yang berada dalam tanah; d) Untuk memecah lapisan keras tanah ( hardpan / plow sole ); dan d) Untuk memperbaiki infiltrasi air pada tanah.
Bajak subsoil/ subsoil plow
Alat ini digunakan untuk memecah lapisan keras didalam tanah (hard pan) atau untuk memperbaiki drainase tanah, hampir sama dengan bajak chisel, namun dipergunakan untuk pengerjaan tanah dengan kedalaman yang lebih dalam, yaitu mencapai kedalaman sekitar 50 – 90 cm.
Bajak raksasa/ giant plow
Dengan menggunakan alat ini tanah subur pada lapisan dalam tanah dapat diangkat ke permukaan tanah. Dapat berbentuk bajak singkal atau bajak piringan.
PENGOLAHAN TANAH KEDUA ( SECONDARY TILLAGE EQUIPMENT )
Pekerjaan penggaruan dilakukan setelah pekerjaan pembajakan dan disebut sebagai olah tanah kedua. Bongkahan- bongkahan tanah dan sisa tanah yang telah terpotong pada olah tanah pertama akan dihancurkan menjadi lebih halus dan sekaligus mencampurnya dengan tanah. Alat garu dapat digerakkan menggunakan hewan maupun traktor.
Alat pengolah tanah kedua biasa ditarik menggunakan daya traktor , antara lain:1). Garu piring ( disk harrow ),Fungsinya : a) memotong rumput pada permukaan tanah; b) menghancurkan permukaan tanah sehingga keratan tanah lebih menyatu dengan lapisan dasar tanah; c) untuk penyiangan; d) untuk menutup biji-bijian yang ditanam secara sebar. Secara umum garu piring dibagi atas : (a) garu piring tipe tarik ( trailing disk harrow ) garu selalu menempel pada tanah yang digaru; (b) garu piring tipe angkat ( mounted disk harrow ), garu menempel pada tanah yang digaru namun ada kalanya ada jeda garu terangkat kepermukaan tanah yang digaru.
Menurut aksinya garu dibagi menjadi : a) Garu dengan aksi tunggal ( single action ) yaitu : saat memotong tanah hanya melempar tanah pada satu arah; b) Garu dengan aksi ganda ( double action ) yaitu : piringan depan dan piringan belakang saling berlawanan arah dalam melempar tanah.
Garu paku, Fungsinya : a) menghaluskan dan meratakan tanah setelah pembajakan; b) untuk penyiangan pada tanaman yang baru tumbuh.
Garu pegas; Fungsinya hampir sama dengan garu paku, bahkan penyiangannya lebih baik dan dapat masuk ke dalam tanah lebih dalam.
Garu rotary; ada 2 macam yaitu : a) garu rotary cangkul ( rotary hoe harrow ); b) garu rotary silang ( rotary cross harrow)
Garu khusus; Ada 2 macam yaitu :a) weeder mulche : alat yang digunakan untuk penyiangan, pmbuatan mulsa, dan pemecahan tanah di bagian permukaan.; b) Soil surgeon : alat yang merupakan susunan pisau berbentuk U, untuk memecah bongkahan tanah dipermukaan dan untuk meratakan tanah.
Land rollers dan pulverizers / perata dan penggembur tanah. Alat ini berfungsi untuk menyelesaikan proses pengolahan tanah untuk persemaian. Alat ini digolongkan menjadi 2 jenis : 1) Surface packer, yang terdiri dari berbagai bentuk; a) V shapped roller pulverizer; b) Kombinasi T shapped dan Sprocket Wheel Pulverizer;c) Flexible sprocket wheel pulverizer. 2) Subsurface packer, terdiri dari a) V shapped packer; b) Crowfoot roller.
Alat penghancur (rotary tiller). Alat ini berfungsi sebagi alat penghancur tanah setelah pembajakan. Ada 2 tipe yaitu : 1) tipe L, rotary tiller tipe ini digunakan untuk jenis tanah lunak , seperti tanah sawah basah; 2) tipe Srotary tiller tipe ini digunakan untuk tanah keras seperti ladang. Untuk tanaman hortikultura digunakan rotary tiller tipe ini..
Alat-alat lainnya ( Sub surface tillage tools and field cultivation); Alat ini berfungsi untuk mengolah tanah tanpa merubah tanah dibagian permukaan dan juga sekaligus dapat untuk penyiangan. Keuntungan menggunakan alat ini : a) meningkatkan kemampuan tanah dalam hal menyerap air; b) mengurangi aliran permukaan ( run off ); c) mengurangi erosi air atau angina; d) mengurangi tingkat penguapan air dari permukaan tanah. Alat ini ada 2 jenis : 1) Subsurface tillage sweeps; 2) Subsurface tillage rod weeder. (Penulis : Suwarna Penyuluh Pertanian Pusat)
Sumber :
1. https://remajasebaya.wordpress.com/2011/04/22/
2. lanuihsan.blogspot.com

Pendugaan Produktivitas Padi Menurut Jarak Tanam Melalui Teknik Ubinan




Upaya peningkatan produktivitas padi hanya dengan menggunakan varietas unggul berdaya hasil tinggi tidak akan efektif tanpa diikuti oleh teknik budidaya, terutama pengaturan jarak tanam yang optimal. Perbedaan jarak tanam sering kali kurang mendapat perhatian dalam cara menentukan produktivitas padi berdasarkan ubinan Jarak tanam yang menetukan populasi tanaman per satuan luas bervariasi antarpetani dan antarlokasi. Hal ini menyebabkan dugaan produktivitas persatuan luas juga akan bervariasi. Kesalahan dalam pendugaan hasil padi per satuan luas berdampak terhadap kesalahan data produksi nasional. Oleh karena itu diperlukan standarisasi ubinan, populasi jumlah tanaman (jumlah rumpun) per satuan luas, dan konversi gabah hasil ubinan ke hektar berdasarkan jarak tanam padi di lapangan.
Ubinan adalah luasan pada pertanaman, yang umumnya berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar (untuk mempermudah perhitungan luas), yang dipilih untuk mewakili suatu hamparan pertanaman yang akan diduga produktivitasnya (hasil tanaman per hektar tanpa pematang) dengan cara menimbang hasil (kg/ubinan), dikali 10.000 m2, dan dibagi dengan luas ubinan (m2). Ubinan yang benar adalah apabila diperluas ke kanan-kiri atau ke depan-belakang (pada pertanaman dengan jarak tanam beraturan), maka jumlah rumpun tanaman (populasi) merupakan kelipatan dari jumlah rumpun dalam ubinan semula. Persyaratan ubinan menurut Gomez dan Gomez (1983) adalah
(1) mudah diidentifikasi, jelas batasnya, terutama pada hamparan pertanaman padi dengan jarak tanam yang sama;
(2) mudah diukur atau dikonversi ke hektar, misalnya luas ubinan sudah diketahui (6,25 m2, sesuai cara lama);
(3) ketepatan dugaan tinggi dengan biaya murah, misalnya hasil padi pada suatu hamparan diduga dari ubinan secara tepat dan tidak memerlukan banyak biaya;
(4) panjang dan lebar atau bentuk ubinan disesuaikan dengan jarak tanam yang beraturan di lapangan, diukur dari titik tengah antar-
4 rumpun ke titik tengah antar- 4 rumpun di ujung lainnya;
(5) upayakan berbentuk bujur sangkar atau empat per segi panjang yang mendekati bujur sangkar;
(6) ubinan diletakkan pada bagian dari pertanaman yang mewakili kondisi pertanaman seluruhnya;
(7) apabila ada bagian-bagian dari pertanaman yang menunjukkan perbedaan pertumbuhan/kesuburan, maka pada setiap bagian pertanaman diletakkan satu ubinan, dan produktivitas pertanaman merupakan rata-rata dari produktivitas bagian pertanaman, dikali dengan proporsi luas keseluruhan. Misalnya, bagian pertanaman pertama memiliki produktivitas 5 ton/ha dengan proporsi 10% dari seluruh areal pertanaman, bagian pertanaman kedua memiliki produktivitas 6 ton/ha dengan proporsi 40%; dan bagian pertanaman ketiga memiliki produktivitas 7 ton/ha dengan proporsi 50%, maka produktivitas hamparan dihitung sbb:
• Produktivitas rata-rata = (5 x 0,1) + (6 x 0,4) + (7 x 0,5) ton/ha = 6,4 ton/ha
• Tanpa mempertimbangkan perbandingan luas pertanaman (proporsi), maka produktivitas bisa salah hitung menjadi (5+ 6 + 7)/3 ton/ha = 6,0 ton/ha.
Ukuran ubinan yang digunakan di lapangan saat ini, untuk menentukan produktivitas padi, adalah 2,5 m x 2,5 m. Apabila jarak tanam 25 cm x 25 cm maka jumlah rumpun dalam ubinan yang dipanen adalah 100 rumpun (250/25 x 250/25 = 10 rumpun x 10 rumpun). Apabila jarak tanam 20 cm x 20 cm maka jumlah rumpun yang dipanen dengan cara yang sama adalah 250/20 x 250/20 = 12,5 rumpun x 12,5 rumpun = 156,25 rumpun, yang tentunya tidak dapat dilaksanakan dengan tepat, sehingga menimbulkan perbedaan dalam penghitungan.
Misalnya, nilai 12,5 rumpun bisa dibulatkan menjadi 13 rumpun dalam luas ubinan 6,25 m2, dan bisa juga "dianggap" 13 x13 rumpun atau 169 rumpun .
Cara 1). Dibandingkan dengan bila yang dipanen 12 rumpun x 12 rumpun atau 144 rumpun (Cara 2), maka hasil ubinan dari 2,5 m x 2,5 m akan berbeda 25 rumpun.
Dengan kata lain, hasil ubinan dengan cara 1 akan 1,17 x lebih besar dibandingkan dengan cara 2, yaitu 169/144 = 1,17. Jadi apabila cara 1 hasilnya 6.000 kg/ha, maka dengan cara 2 hasilnya 5.128 kg/ha, padahal luas hamparannya sama.
Contoh :
Sistem tanam Jajar Legowo 2 : 1 (20 cm – 40 cm) x 10 cm
a. Orientasi Pertanaman




b. Populasi tanaman
Populasi tanaman dalam 1,2 m x 1 m = 4 rumpun x 10 rumpun atau 1,2 m2 = 40 rumpun atau 1 ha = 10.000/1,2 m2 x 40 rumpun 333.333 rumpun.
c. Ukuran ubinan
Ukuran ubinan yang sesuai adalah: 2,4 m x 2,5 m = 6 m2 atau 8 rumpun x 25 rumpun = 200 rumpun.
d. Konversi hasil ubinan ke hektar
Apabila hasil ubinannya 3 kg, maka hasil/produktivitas tanaman adalah 10.000/6 m2 x 3 kg = 5.000 kg GKP/ha.
Ruslia Atmaja
Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan -Badan Litbang Pertanian 2014

Meningkatkan Produktivitas Padi melalui Teknologi Jajar Legowo Super



Teknologi Jajar Legowo Super merupakan teknologi budidaya padi terpadu dari Balitbangtan yang berbasis cara tanam jajar legowo. Komponen teknologi di dalamnya meliputi Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi, dekomposer jerami, pupuk hayati, pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan pestisida nabati dan kimia berdasarkan ambang kendali, serta alsintan (transplanter dan combine harvester).
Melalui teknologi Jajar Legowo Super (JLS), produktivitas padi dapat ditingkatkan lebih dari 20%. Implementasi pengembangan model ini dilakukan dalam bentuk demarea dengan tujuan selain untuk memverifikasi keunggulan inovasi yang diterapkan, juga sebagai wahana diseminasi kepada pengguna khususnya petani.
Jarwo atau jajar legowo sudah lama dikenal di kalangan petani, yang merupakan cara bertanam padi dengan jarak 2:1 atau 4:1. Pada jarwo super dilengkapi dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) padi dengan potensi hasil tinggi. VUB seperti Inpari 30, Inpari 32, serta Inpari 33.
Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 adalah salah satu cara tanam pindah padi sawah yang mengatur setiap dua barisan tanaman dan diselingi dengan satu barisan kosong (legowo) dengan penerapan jarak tanam, baik dalam barisan maupun antar barisan disesuaikan dengan maksud kesuburan tanah dan ketinggian tempat. Semakin subur tanah, maka jarak tanam yang diterapkan semakin lebar. Demikian pula dengan ketinggian tempat, semakin tinggi tempat maka jarak tanam yang diterapkan semakin lebar. Maksud dan tujuan penerapan sistem Jarwo, di antaranya (a) Memanfaatkan radiasi matahari pada tanaman yang terletak di pinggir petakan, sehingga diharapkan seluruh pertanaman memperoleh efek pinggir (border effect), (2) Memanfaatkan efek turbulensi udara yang bila dikombinasikan dengan sistem pengairan basah-kering berselang maka dapat mengangkat asam-asam organik tanah yang berbahaya bagi tanaman dari bagian bawah ke bagian atas (menguap), (3) Meningkatkan kandungan karbon dioksida (CO2 ) dan hasil fotosintesis tanaman, (4) Memudahkan dalam pemupukan dan pengendalian tikus, dan (5) Meningkatkan populasi tanaman per satuan luas
Komponen lainnya sistem jarwo super yakni penggunaan biodekomposer, yang merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu.
Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah.
Penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan PUTS (perangkat uji tanah sawah) juga menjadi komponen pada jarwo super. Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.
Selanjutnya, terdapat komponen pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan pestisida nabati dan anorganik, serta pemanfaatan alat mesin pertanian khususnya transplanter dan combine harvester.
Berdasarkan hasil panen ubinan yang dilakukan oleh Tim terpadu BPS Indramayu, Peneliti Balitbangtan, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Indramayu, UPTD Kecamatan Bangodua, TNI dari Koramil Bangodua, dan beberapa Gapoktan di Indramayu, diperoleh produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) di (demo area) dem-area seluas 50 ha.
Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1 sebesar 13,9 t/ha; Varietas Inpari 32 HDB sebesar 14,4 t/ha; dan Varietas Inpari 33 sebesar 12,4 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas pertanaman petani di luar dem-area dengan varietas Ciherang adalah 7,0 t/ha.
Petani yang menerapkan paket teknologi ini secara penuh bisa mendapatkan produksi sekitar 10 ton Gabah Kering Giling (GKG)/ha per musim tanam dengan kata lain ada delta penambahan produksi sebesar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo biasa yang diterapkan di sawah irigasi sebesar 6 ton/ha/musim.
Pengembangan Inovasi Teknologi ini guna mengantisipasi menyusutnya lahan pertanian, sementara permintaan terus meningkat. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan di 20% dari total lahan pertanian irigasi saja, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 3,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pertahun.
Dengan adanya peningkatan produksi maka pemerintah akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah juga harus secepatnya memformulasikan harga gabah demi kesejahteraan petani. (Penulis: Suwarna – Penyuluh Pertanian Pusat)
Sumber :
1. http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/2574/
2. www.informasipertanian.com

Pengelolaan Air Sawah Bukaan Baru

Secara fisik di lapangan lahan sawah didefinisikan sebagai lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), ditanami padi, baik terletak pada dataran maupun di lereng perbukitan.
Berdasarkan ketersediaan air, lahan sawah dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu: (1) lahan sawah berpengairan teknis, (2) sawah berpengairan setengah teknis, (3) lahan sawah berpengairan sederhana, (4) lahan sawah berpengairan desa, dan (5) lahan sawah tadah hujan. Lahan sawah berpengairan desa, tadah hujan, pasang surut, lahan sawah lebak, dan polder merupakan lahan sawah alami, yang terbentuk karena karakteristik fluktuasi dan ketersediaan muka air yang menggenangi sepanjang tahun atau intermittent.
Lahan sawah bukaan baru adalah lahan sawah yang dicetak pada lahan kering untuk selanjutnya digenangi air dengan penataan air secara teknis. Permasalahan utama dalam penataan air lahan sawah bukaan baru adalah laju kehilangan air masih sangat besar akibat lapisan tapak bajak belum terbentuk. Pada tahap selanjutnya kehilangan air yang besar tersebut jika tidak dapat diatasi dapat mengakibatkan jeda kekeringan di tengah tengah fase pertumbuhan dan berpengaruh terhadap tingkat hasil panen , baik pada lahan sawah tadah hujan maupun lahan sawah beririgasi. Akibat lain dari cepatnya kehilangan air pada lahan sawah bukaan baru , yaitu efesiensi pemupukan juga menjadi rendah akibat pencucian ((leaching) hara makro N, K, Ca dan Mg.
Keberhasilan menahan air selama mungkin dalam petakan sawah adalah salah satu kunci keberhasilan sistem budi daya padi pada lahan sawah. Oleh karena itu diperlukan pengembangan teknologi pengelolaan air bagi keberhasilan usaha tani pada lahan sawah bukaan baru.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembukaan lahan sawah baru, dalam rangka efesiensi penggunaan air :
1. Pencetakan sawah hendaknya dilakukan pada tanah-tanah dengan kandungan liat tinggi, seperti pada tanah-tanah Latosol, Ultisol, atau pada tanah-tanah Alluvial, sehingga sejak awal pencetakan kehilangan air melalui perkolasi dan aliran lateral dapat diminimumkan. Demikian pula waktu yang dibutuhkan untuk membentuk lapisan kedap air (hardpan) menjadi lebih pendek.
2. Membuat galengan kedap air menggunakan tanah dari lapisan subsoil (umumnya mengandung liat tinggi) secara cermat, bila diperlukan bisa dilapisi dengan plastik, hingga lapisan bajak terbentuk.
3. Proses pembajakan disarankan menggunakan alat mekanik seperti hand traktor guna mempercepat proses pelumpuran sekaligus memberikan efek tekan untuk pemadatan lapisan kedap.
4. Menambahkan bahan organik atau kapur pertanian untuk mempercepat proses agregasi pada saat periode pengeringan sekaligus menekan Fe2+ yang bersifat meracun bagi tanaman (Sukristiyonubowo et al., 1993).
5. Pintu outlet selama periode pelumpuran ditiadakan. Dengan kata lain setiap petakan diperlakukan sebagai satu sistem.
6. Membangun petakan sawah sesuai dengan jumlah curah hujan maupun ketersediaan air irigasi.
Pengelolaan air pada sawah bukaan baru, terbentuknya lapisan kedap memang dikehendaki agar efisien dalam penggunaan air . Manfaat lapisan padat tersebut antara lain; dapat mengurangi laju air perkolasi, memudahkan pengolahan tanah sawah, meningkatkan hasil padi dan efisiensi dalam penggunaan air ( Ghildyal, 1978).
Sawah bukaan baru dapat berkembang menjadi: (1) lahan sawah irigasi apabila debit air irigasi masih cukup untuk pengairannya, atau bila mungkin dibangun bendungan baru dan (2) lahan tadah hujan manakala ketersediaan air untuk tanaman semata-mata dari curah hujan.
Keberlanjutan produktivitas lahan sawah bukaan baru dipengaruhi oleh pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhannya yang didasarkan pada sumber air pengairan, jenis tanaman, dan sifat tanah serta ekosistem lahan sawah, yaitu ekosistem lahan sawah irigasi dan ekosistem lahan sawah tadah hujan. Dengan pengelolaan air ini diharapkan kebutuhan air tanaman selalu tersedia dalam zona perakaran selama periode pertumbuhan dan perkembangan tanaman
Ruslia Atamaja
Sumber : Badan Litbang Pertanian-Puslittanah

budidaya tanaman padi

Panduan Lengkap Dan “Sukses” Cara Budidaya Tanaman Padi “HASIL PANEN MAKSIMAL”

Padi merupakan komoditas tanaman yang sudah sejak berabad abad telah di budidayakan oleh kalangan petani terutama di indonesia sendiri. Tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi ini akan selamanya di butuhkan karena padi merupakan tanaman penghasil beras guna untuk kebutuhan konsumsi makanan dan kebutuhan nutrisi bagi semua umat manusia. Untuk itu budidaya padi juga membutuhkan panduan yang lengkap untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal. Berikut adalah langkah – langkah dalam budidaya padi yang baik dan benar.

Syarat Tumbuh
Iklim
•             Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
•             Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.
•             Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperatur 19-23 derajat C.
•             Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.
•             Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.
Memilih Tempat Pesemaian
•             Tempat untuk membuat pesemaian merupakan syarat yang harus diperhatikan agar diperoleh bibit yang baik.
•             Tanahnya harus yang subur, banyak mengandung humus, dan gembur.
•             Tanah itu harus tanah yang terbuka, tidak terlindung oleh pepohonan, sehingga sinar matahari dapat diterima dan dipergunakan sepenuhnya.
•             Dekat dengan sumber air terutama untuk pesemaian basah, sebab pesemaian banyak membutuhkan air. Sedangkan pesemaian kering dimaksudkan mudah mendapatkan air untuk menyirami apabila persemaian itu mengalami kekeringan.
Apabila areal yang akan ditanami cukup luas sebaiknya tempat pembuatan pesemaian tidak berkumpul menjadi satu tempat tetapi dibuat memencar. Hal itu untuk menghemat biaya atau tenaga pengangkutannya.
Mengerjakan Tanah Untuk Pesemaian
Tanah pesemaian harus mulai dikerjakan kurang lebih 50 hari sebelum penanaman. Karena adanya dua jenis padi, yaitu padi basah dan padi kering, maka tanah pesemaian juga dapat dibedakan atas pesemaian basah dan pesemaian kering.
Pesemaian Basah
Dalam membuat tanah sawah basah persemaian seharusnya benar-benar subur. Rumput dan jerami yang masih harus dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian sawah dibanjiri, tujuannya adalah agar tanah menjadi lembut, rumput akan tumbuh menjadi mati, dan berbagai serangga yang dapat merusak bibit mati pula.
Selain itu, jika tanah cukup lembut dan dibajak berkali kali hingga halus. Pada saat itu juga juga membuat dan memperbaiki tanggul dan pematang sawah. Sebagai tindakan dasar persemaian luas harus dibuat sekitar 1/20 dari areal padi yang akan ditanam.
Jadi, ketika padi yang akan ditanam daerah 1 ha, area pembibitan yang harus dilakukan adalah 1/20 x 10 000 m² = 500 m². Benih yang dibutuhkan adalah sekitar 75 gram biji per 1 m², atau sebanyak kurang lebih 40 kg.
Pesemaian Kering
Prinsip pembuatan pesemaian kering sama dengan pesemaian basah. Rumput-rumput dan sisa-sisa jerami yang ada harus dibersihkan terlebih dahulu. Tanah dibolak-balik  dengan bajak dan digaru, atau bisa dan halus. juga memakai cangkul yang terpenting tanah menjadi gembur.
Setelah tanah menjadi halus, diratakan dan dibuat bedengan-bedengan. Adapun ukuran bedengan sebagai berikut :  Tinggi 20 cm, lebar 120 cm, panjang 500-600 cm.Antara bedengan yang satu dengan yang lain diberi jarak 30 cm sebagai selokan yang dapat digunakan untuk memudahkan : Penaburan biji, pengairan, pemupukan, penyemprotan hama, penyiangan, dan pencabutan bibit.
Penaburan Biji
Untuk memilih biji-biji yang bertunas dan tidak, biji harus direndam dalam air. Biji-biji yang bertunas akan tenggelam sedangkan yang biji-biji yang hampa akan terapung. Dan biji-biji yang terapung bisa dibuang. Maksud perendaman selain memilih biji yang bertunas, biji juga agar cepat berkecambah. Lama perendaman cukup 24 jam, kemudian biji diambil dari rendaman lalu di peram dibungkus memakai daun pisang dan karung.
Pemeraman dibiarkan selama 8 jam.Apabila biji sudah berkecambah dengan panjang 1 mm, maka biji disebar ditempat pesemaian. Diusahakan agar penyebaran biji merata, tidak terlalu rapat dan tidak terlalu jarang. Apabila penyebarannya terlalu rapat akan mengakibatkan benih yang tumbuh kecil-kecil dan lemah, tetapi penyebaran yang terlalu jarang biasanya menyebabkan tumbuh benih tidak merata.
Pemeliharaan Pesemaian
Pengairan
Pada pesemaian basah, begitu biji ditaburkan terus digenangi air selama 24 jam, baru dikeringkan. Genangan air dimaksudkan agar biji yang disebar tidak berkelompok-kelompok sehingga dapat merata. Adapun pengeringan setelah penggenangan selama 24 jam itu dimaksudkan agar biji tidak membusuk dan mempercepat pertumbuhan.
Pada pesemaian kering, pengairan dilakukan dengan air rembesan. Air dimasukan dalam selokan antara bedengan-bedengan, sehingga bedengan akan terus-menerus mendapatkan air dan benih akan tumbuh tanpa mengalami kekeringan. Apabila benih sudah cukup besar, penggenangan dilakukan dengan melihat keadaan. Pada bedengan pesemaian bila banyak ditumbuhi rumput, perlu digenangi air. Apabila pada pesemaian tidak ditumbuhi rumput, maka penggenangan air hanya kalau memerlukan saja.
Pengobatan
Untuk menjaga kemungkinan serangan penyakit, pesemaian perlu disemprot dengan Insektisida 2 kali, yaitu 10 hari setelah penaburan dan sesudah pesemaian berumur 17 hari.
Pengolahan Tanah Atau Lahan Calon Tanam Padi
Cara Mengolah Tanah
Pengolahan tanah untuk penanaman padi harus sudah disiapkan sejak dua bulan penanaman. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua macam cara yaitu dengan cara tradisional dan cara modern.
•             Pengolahan tanah sawah dengan cara tradisional, yaitu pengolahan tanah sawah dengan alat-alat sederhana seperti sabit, cangkul, bajak dan garu yang semuaya dilakukan oleh manusia atau dibantu oleh binatang misalnya, kerbau dan sapi.
•             Pengolahan tanah sawah dengan cara modern yaitu pengolahan tanah sawah yang dilakukan dengan mesin. Dengan traktor dan alat-alat pengolahan tanah yang serba dapat kerja sendiri.
Pembersihan
Sebelum tanah sawah dicangkul harus dibersihkan lebih dahulu dari jerami-jerami atau rumput-rumput yang ada. Dikumpulkan di satu tempat atau dijadikan kompos. Sebaiknya jangan dibakar, sebab pembakaran jerami itu akan menghilangkan zat nitrogen yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.
Pencangkulan
Sawah yang akan dicangkul harus digenangi air terlebih dahulu agar tanah menjadi lunak dan rumput-rumputnya cepat membusuk. Pekerjaan pencangkulan ini dilanjutkan pula dengan perbaikan pematang-pematang yang bocor.
Pembajakan
Sebelum pembajakan, sawah-sawah harus digenangi air lebih dahulu. Pembajakan dimulai dari tepi atau dari tengah petakan sawah yang dalamnya antara 12-20 cm. tujuan pembajakan adalah mematikan dan membenamkan rumput, dan membenamkan bahan-bahan organis seperti : pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos sehingga bercampur dengan tanah. Selesai pembajakan sawah digenangi air lagi selama 5-7 hari untuk mempercepat pembusukan sisa-sisa tanaman dan melunakan bongkahan-bongkahan tanah.
Penggaruan
Pada waktu sawah akan digaru genangan air dikurangi. Sehingga cukup hanya untuk membasahi bongkahan-bongkahan tanah saja. Penggaruan dilakukan berulang-ulang sehingga sisa-sisa rumput terbenam dan mengurangi perembesan air ke bawah.
Setelah penggaruan pertama selesai, sawah digenangi air lagi selama 7-10 hari, selang beberapa hari diadakan pembajakan yang kedua. Tujuannya yaitu: meratakan tanah, meratakan pupuk dasar yang dibenamkan, dan pelumpuran agar menjadi lebih sempurna.
Teknik Penanaman Padi
Pemilihan Bibit
Pekerjaan penanaman didahului dengan pekerjaan pencabutan bibit di pesemaian. Bibit yang akan dicabut adalah bibit yang sudah berumur 25-40 hari (tergantung jenisnya), berdaun 5-7 helai. Sebelum pesemaian 2 atau 3 hari tanah digenangi air agar tanah menjadi lunak dan memudahkan pencabutan.
Caranya, 5 sampai 10 batang bibit kita pegang menjadi satu kemudian ditarik ke arah badan kita, usahakan batangnya jangan sampai putus. Ciri-ciri bibit yang baik antara lain :
•             Umurnya tidak lebih dari 40 hari
•             Tingginya kurang lebih dari 40 hari
•             Tingginya kurang lebih 25 cm
•             Berdaun 5-7 helai
•             Batangnya besar dan kuat
•             Bebas dari hama dan penyakit
Bibit yang telah dicabut lalu diikat dalam satu ikatan besar untuk memudahkan pengangkutan. Bibit yang sudah dicabut harus segera ditanam, jangan sampai bermalam.
Penanaman padi yang baik harus menggunakan larikan ke kanan dank e kiri dengan jarak 20 x 20 cm, hal ini untuk memudahkan pemeliharaan, baik penyiangan atau pemupukan dan memungkinkan setiap tanaman memperoleh sinar matahari yang cukup dan zat-zat makanan secara merata.
Dengan berjalan mundur tangan kiri memegang bibit, tangan kanan menanam, tiap lubang 2 atau 3 batang bibit, dalamnya kira-kira3 atau 4 cm. usahakan penanaman tegak lurus jangan sampai miring.
Usahakan penanaman bibit tidak terlalu dalam ataupun terlalu dangkal. Bibit yang ditanam terlalu dalam akan menghambat pertumbuhan akar dan anakannya sedikit.
Bibit yang ditanam terlalu dangkal akan menyebabkan mudah rubuh atau hanyut oleh aliran air. Dengan demikian jelas bahwa penanaman bibit yang terlalu dalam maupun terlalu dangkal akan berpengaruh pada hasil produksi.
Pemeliharaan Tanaman Padi
Pengairan
Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu factor penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang.
Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang berasal dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan tanaman. Air yang berasal dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah, sebab air itu jernih, tidak mengandung lumpur dan kotoran.
Memasukan air kedalam sawah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
•             Air yang dimasukan ke petakan-petakan sawah adalah air yang berasal dari saluran sekunder. Air dimasukan ke petakan sawah melalui saluran pemasukan, dengan menghentikan lebih dahulu air pada saluran sekunder.
•             Untuk menjaga agar genangan air didalam petakan sawah itu tetap, jangan lupa dibuat pula lubang pembuangan. Lubang pemasukan dan lubang pembuangan tidak boleh dibuat lurus.
•             Hal ini dimaksudkan agar ada pengendapan lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Apabila lubang pemasukan dan lubang pembuangan itu dibuat lurus, maka air akan terus mengalir tanpa adanya pengendapan.
Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah, dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan umur tanaman tersebut. Kedalaman air hendaknya diatur dengan cara sebagai berikut :
•             Tanaman yang berumur 0-8 hari dalamnya air cukup 5 cm.
•             Tanaman yang berumur 8-45 hari dalamnya air dapat ditambah hingga 10-20 cm.
•             Tanaman padi yang sudah membentuk bulir dan mulai menguning dalamnya air dapat ditambah hingga 25 cm. setelah itu dikurangi sedikit demi sedikit.
•             Sepuluh hari sebelum panen sawah dikeringkan sama sekali. Agar padi dapat masak bersama-sama.
Penyiangan dan Penyulaman
Setelah penanaman, Apabila tanaman padi ada yang mati harus segera diganti (disulam). Tanaman sulam itu dapat menyamai yang lain, apabila penggantian bibit baru jangan sampai lewat 10 hhari sesudah tanam.
Selain penyulaman yang perlu dilakukan adalah penyiangan agar rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman padi tidak bertumbuh banyak dan mengambil zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman padi. Penyiangan dilakukan dua kali yang pertama setelah padi berumur 3 minggu dan yang kedua setelah padi berumur 6 minggu.
Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah zat-zat dan unsur-unsur makanan yang dibutuhkan oleh tanaman di dalam tanah. Untuk tanaman padi, pupuk yang digunakan antara lain:
•             Pupuk alam, sebagai pupuk dasar yang diberikan 7-10 hari sebelum tanaman dapat digunakan pupuk-pupuk alam, misalnya: pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos. Banyaknya kira-kira 10 ton / ha.
•             Pupuk buatan diberikan sesudah tanam, misalnya: ZA/Urea, DS/TS, dan ZK. Adapun manfaat pupuk tersebut sebagai berikut:
•             ZA/Urea : menyuburkan tanah, mempercepat tumbuhnya anakan, mempercepat tumbuhnya tanaman, dan menambah besarnya gabah.
•             DS/TS : mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang pembungaan dan pembentukan buah, mempercepat panen.
•             ZK : memberikan ketahanan tanaman terhadap hama / penyakit, dan mempercepat pembuatan zat pati.
Pengendalian Hama Dan Penyakit
Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)
Hama putih (Nymphula depunctalis)
Gejala : menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.
Pengendalian
•             Pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun;
•             Penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau Tomafur 3G.
Padi trip (Trips oryzae)
•             Gejala : daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
•             Pengendalian : insektisida Mipein 50 WP atau Dharmacin 50 WP.
Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta, berwarna abu-abu; Spodoptera litura, berwarna coklat hitam; S. exempta, bergaris kuning)
•             Gejala : ulat memakan helai daun, tanaman hanya tinggal tulang-tulang daun.
•             Pengendalian: cara mekanis dan insektisida Sevin, Diazenon, Sumithion dan Agrocide.
Hama di Sawah
Wereng
Wereng penyerang batang padi : wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).
•             Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.
Gejala : tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
Pengendalian
•             Bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah.
•             Penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu.
Gejala : dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian
•             Bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik;
•             Menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
Kepik hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang dan buah padi.
•             Gejala : pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu.
•             Pengendalian : mengumpulkan dan memusnahkan telurtelurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75 WP.
Hama tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
•             Gejala : adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
•             Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.
Burung
Burung (manyar Palceus manyar, gelatik Padda aryzyvora, pipit Lonchura lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih L. ferramaya).
•             Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
•             Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.
Pengendalian Penyakit
Bercak daun coklat
Penyebab: jamur (Helmintosporium oryzae).
Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
Pengendalian:
•             Merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15);
•             Dengan insektisida Rabcide 50 WP.
Blast
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.
Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
Pengendalian:
•             Membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir;
•             Menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab: jamur Cercospora oryzae.
Gejala: menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.
Pengendalian:
•             Menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri;
•             Menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.
Gejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
Pengendalian:
•             Menanam padi tahan penyakit ini;
•             Menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.
Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.
Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
Panen Padi
Ciri dan Umur Panen
Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau rendah.
Cara Panen
Keringkan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi.
Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder, panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar.
Perkiraan Produksi
Dengan penanaman dan pemeliharaan yang intensif, diharapkan produksi mencapai 7 ton/ha. Saat ini hasil yang didapat hanya 4-5 ton/ha.
Pasca Panen
Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60 jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen.
Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.
Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14 %. Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.
Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller).
Di kutip dari sumber : pekalongankab.go.id     dan     disperta.bulungan.go.id


Jumat, 14 Oktober 2016

Cara Membuat Pupuk Organik Cair


Pupuk organik cair dalam pembahasan ini mengacu pada pengertian pupuk organik dan pupuk kompos yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya. Secara singkat bisa dikatakan pupuk organik cair adalah pupuk berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses pengomposan. Untuk merangsang pertumbuhan daun, pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.